Kamis, 11 Oktober 2018

BANCAKAN

Bancakan
(Wujud Doa dan Ucapan Syukur Masyarakat Jawa)


(Bancakan yang sudah dibagikan kepada anak-anak)

Salah satu jenis tradisi orang Jawa yang masih hidup sampai saat ini adalah bancakan. Bancakan berasal dari kata dasar ancak yang artinya tempat/wadah untuk meletakkan nasi, sayur, dan lain-lain. Tetapi ada juga yang mengartikan bahwa bancakan berasal dari kata bancak yang berarti selamat. Tradisi bancakan merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan sebagai pencipta dan simbol rasa syukur kepada nenek moyang yang menjadi perantara Tuhan untuk kita bisa ada di dunia. Pada awal perkembangannya, bancakan dipahami orang Jawa sebagai ucapan syukur kepada sang pamomong atau pengasuh atau pembimbing secara spiritual. Latar belakang budaya yang menyebabkannya karena masyarakat Jawa pada jaman dahulu percaya bahwa setiap anak yang lahir selalu didampingi roh penjaga yang bertugas menjaga, dan membimbing seorang anak secara spiritual.  Fungsi bancakan selain ditujukan untuk roh pendamping juga sebagai media untuk berdoa dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Ada beragam bancakan yang berkembang di Jawa. Setiap jenis bancakan memiliki tata cara yang berbeda. Macam-macam bancakan yang berkembang di Jawa antara lain: bancakan saat lahiran bayi, peringatan sepasaran, peringatan selapanan bayi, peringatan weton, bancakan peringatan umur kandungan seperti mitoni, dll. Bancakan sebagai simbol doa syukur kadang-kadang dilaksanakan sebagai wujud syukur orang Jawa ketika terjadi peristiwa penting seperti mau membangun rumah, setelah membangun rumah, setelah membeli mobil, dan lain-lain.

Pelaksanaan bancakan dalam masyarakat Jawa biasanya dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 15.30 sampai jam 17.00 WIB. Waktu ini dipakai karena makanan bancakan biasanya disesuaikan dengan waktu anak-anak sudah pulang sekolah dan merupakan waktu bermain. Makanan bancakan terdiri dari nasi; gudangan/urap yang terdiri dari kacang panjang, bayam, kangkung yang dicampur dengan bumbu parutan kelapa; ditambah pisang, telur rebus, ikan asin, karak, bumbu kedelai pedas, kadang ditambahkan tempe.

Penyusunan makanan tersebut sebagai berikut:  
1. Tambir, atau tampah, atau ancak di atasnya diberi daun pisang.
2. Nasi putih ditaruh di atas tampah dan dibentuk kerucut atau biasa disebut berbentuk tumpeng. Di atas tumpeng bisa ditambahkan tusukan bawang merah dan cabai besar merah di atasnya.
3. Sayur urap atau gudangan ditaruh mengelilingi nasi.
4. Telor rebus, ikan asin, dan pisang ditaruh di atas gudangan, sedangkan
5. Bumbu kedelai pedas dipisahkan karena ada anak yang tidak suka pedas.
6. Kadang-kadang ditambahkan kerupuk nasi dan uang

Setelah semua makanan sudah dilatekkan di atas tampah. Berikut urutan acara bancakan :
1. Nasi bancakan didoakan di dalam rumah oleh orang yang dituakan atau orang yang berkepentingan.
2. Nasi bancakan dibawa keluar rumah.
3. Anak-anak di sekitar rumah dipanggil untuk datang dan mengikuti acara bancakan.
4. Setelah anak-anak berkumpul banyak, pemilik rumah berdoa di depan anak-anak dan diamini oleh semua yang hadir dengan suara yang lantang. Tujuan doanya biasanya supaya sehat, rejeki lancar, tidak nakal, dan menitipkan kepada anak-anak sekitar untuk menjaga adik bayi yang baru lahir.
5. Makanan dibagikan kepada anak-anak dengan ditempatkan di ungkusan. Isi ungkusan tersebut antara lain nasi, gudangan, ikan asin goreng, bumbu kedelai bagi yang suka pedas, telur yang sudah diiris-iris, pisang yang diiris, tempe, kerupuk nasi, dan kadang-kadang ditambahkan uang 1.000 atau 2.000.
6. Setelah bancakan habis dibagikan kepada anak-anak, sanak-saudara, tetangga. Sisa dari bancakan biasanya ditaruh di sumur, di perempatan atau pertigaan jalan. Namun kebiasaan terakhir tersebut kadang-kadang masih dilakukan dan ada yang sudah tidak melakukannya.


Selain Jawa Tengah, tradisi bancakan juga berkembang di Jawa barat. Tradisi bancakan bagi masyarakat Sunda mencerminkan kebersamaan, kerukunan dan persatuan, kesetaraan bagi semua kalangan. Aneka lauk yang disajikan dalam bancakan Sunda antara lain nasi liwet, aneka lauk seperti ayam goreng, ikan goreng, tahu tempe goreng, lalapan, urap, sambal terasi. Suku Batak juga memiliki tradisi makan bersama. Tradisi ini disebut tradisi mamlo yang berarti mengundang orang untuk datang dan makan bersama. Mamboan sipangonan yaitu menghantarkan makanan suka cita.

Rabu, 10 Oktober 2018

GEREJA BLENDUK

GEREJA BLENDUK
(Gereja Tertua, Icon Kota Lama)

(Gereja Blendug dilihat dari Jalan Letjen Soeprapto)

Gereja GPIB Immanuel Semarang sering disebut dengan gereja blendug. Sebuah gereja yang menjadi icon kota lama. Sebutan blendug diberikan masyarakat Semarang dan sekitarnya karena gereja ini memiliki atap kubah yang besar. Masyarakat Jawa mengenal atap kubah biasanya dipakai untuk tempat ibadah umat muslim (masjid). Sedangkan untuk bangunan gereja biasanya menggunakan atap genting berbentuk limasan, kampung maupun yang lainnya. Oleh karena bentuk atap yang tidak biasa bagi masyarakat tersebut, kemudian masyarakat memberi sebutan GPIB Immanuel Semarang dengan sebutan gereja bledug yang artinya gereja yang memiliki atap blendug atau melengkung.

(Gereja Blendug pada masa Kolonial)

Gereja Blendug dibangun oleh masyarakat Belanda pada tahun 1753. Gereja ini  merupakan gereja tertua di Jawa Tengah. Bentuk gereja ini pada awalnya berbentuk rumah panggung Jawa dengan atap berarsitektur model Jawa. Sayangnya foto dari cikal bakal gereja ini tidak ada. Pada tahun 1787 rumah panggung ini dirombak total. Tujuh tahun berikutnya diadakan perubahan kembali. Pada tahun 1894, gedung ini dibangun kembali oleh H.P.A. de Wilde dan W.Westmas dengan menambahkan dua menara di depan.

(Bagian dalam gereja Blendug dengan lantai tegel berwarna cokelat)

Bagi anda yang berkunjung ke Kota Lama Semarang, anda bisa menikmati keindahan Gereja Blendug yang bercat dinding putih dengan kubah berwarna merah muda. Ketika anda bersantai di Taman Sri Gunting yang asri anda bisa menikmatinya dari taman tersebut. Anda juga bisa berfoto selfie di sekitar gereja yang indah. Gereja yang berbentuk neo klasik dengan kubah perunggu berukuran besar di atasnya, memiliki dua menara tinggi, di depan pintu masuk terdapat pilar-pilar yang menambah keindahannya dan apabila anda mengelilinginya, bentuk gereja ini berbentuk segi delapan beraturan dengan ruang induk di tengah, tepat di bawah kubah. Apabila anda ingin masuk dan melihat-lihat gereja ini lebih dekat, anda bisa menghubungi petugas keamanan yang sedang bertugas di sana untuk memohon ijin masuk. Setelah dipersilakan anda bisa memasukkan uang pon untuk mengganti leafle dan untuk membantuk perawatan gedung. Di dalam gereja anda akan merasakan keindahan gereja blendug lebih dekat. Ketika anda berada di bawah kubah yang besar dan anda melihat ke atas, anda akan merasakan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Tuhan. Selain itu, pada bagian balkin masih terlihat terlihat organ (orgel) peninggalan jaman Belanda yang sudah berusia ratusan tahun. Sayang orgel ini sudah tidak bisa difungsikan lagi sebagai pengiring saat jemaat gereja memuji Tuhan. Bangunan ini berlantai ubin berwarna coklat tua; kursi dan mimbar masih asli zaman Belanda; dan bentuk besi pegangan tangga sangat unik. Sampai saat ini bangunan ini masih dalam kondisi yang baik, meskipun kadang-kadang plester dinding mengelupas namuns segera diperbaiki oleh pihak gereja.

Orgel gereja Blendug)

(Jendela kaca patri)


Sampai saat ini, gereja blendug masih aktif dipergunakan sebagai tempat ibadah. Jadwal kebaktiannya tidak hanya sekali. Ibadah minggu dilaksanakan sebanyak tiga kali. Ibadah paagi dimulai pukul 06.00, ibadah pagi berikutnya dimulai pukul 09.00 dan pada sore hari ibadah dilaksanakan pada pukul 17.00. Bila anda beraagama nasrani dan sedang berkunjung ke Kota Lama, tidak ada salahnya bila anda juga ikut beribadah di gereja blendug.


Gereja Blendug tampak depan
Foto bersumber dari bagaskaranova


Krystiadi
Penggiat Budaya Kota Semarang
Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud


Wikipedia

Minggu, 07 Oktober 2018

Gedung Sobokartti Kota Semarang


Bangunan Sobokarti merupakan karya Karsten kedua yang berbentuk Jawa. Bangunan pertama adalah sebuah pendapa di komplek Istana Mangkunegara, Surakarta (1923) yang kedua adalah Gedung Sobokarrti yang dibangun pada 1930. Pada waktu itu, bangunan Sobokarrti bernama Volkstheater Sobokartti. Pendirian gedung Sobokarrti sejak awal adalah sebagai gedung pertunjukan dan tempat latihan berbagai seni tradisional. Oleh karena fungsi bangunan ini dibangun untuk pertunjukan kesenian, Thomas Karsten kemudian mengkaji dan mendalami tentang kesenian rakyat di Jawa seperti wayang orang maupun wayang kulit.



Thomas Karsten kemudian membuat sebuah gedung pertunjukan teater bergaya Barat tetapi bentuk luarnya berupa bangunan pendapa orang Jawa. Bisa dikatakan bangunan ini bergaya “Indo-European Style” atau gaya Hindia Belanda. Seperti penuturan pengurus harian Soboartti dan seperti yang dapat kita baca di salah satu pamflet di Sobokartti, gedung ini memiliki pencahayaan dan tingkat akustik yang baik untuk sebuah pertunjukan teater. Artinya, Thomas Karsten tidak main-main dalam membuat gedung ini. Gedung ini tentu saja sudah disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan dari gedung ini nantinya yaitu digunakana sebagai kegiatan kesenian maupun tempat pertunjukan kesenian rakyat.



Fungsi Sobokartti sebagai tempat pertunjukan mengalami perubahan setelah pendudukan Jepang. Kegiatan kesenian di gedung ini sempat terhenti. Oleh militer Jepang, gedung Sobokartti diduduki dan difungsikan sebagai markas Jepang. Otomatis, kegiatan kesenian di gedung ini menjadi tidak ada.

 

Setelah masa kemerdekaan, gedung Sobokarti terus berperan aktif dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ketika terjadi pertempuran lima hari di Semarang, ada dua belas pemuda gugur di Sobokarti. Setelah penjajahan Jepang berakhir, gedung ini difungsikan seperti sedia kala yaitu sebagai tempat kegiatan kesenian.

 

Saat ini gedung Sobokarti menjadi salah satu tempat di Kota Semarang yang sangat aktif dalam kegiatan kesenian. Bukan hanya dalam penyelenggaraan lomba-lomba kesenian, kegiatan kebudayaan, maupun pertunjukan kesenian rakyat. Tempat ini juga dipakai sebagai sanggar kesenian. Cabang kesenian yang diajarkan mulai dari seni tari, seni karawitan sampai seni pedalangan wayang kulit purwa. Murid-murid yang mengikuti kegiatan ini mencapai lebih dari seratus orang mulai dari tingkat anak-anak, remaja, sampai dewasa.


Bagi anda yang berada di Kota Semarang dan ingin mengenalkan kesenian daerah kepada putra-putri anda, anda bisa datang ke Sobokartti. Jenis kesenian yang diajarkan tidak hanya kesenian tradisi, tetapi juga mengajarkan jenis kesenian kreasi baru (untuk tari), wayang padat (untuk seni pedalangan), dan seni kreasi lainnya. Pemerintah Daerah juga sering meminta sanggar Sobokartti untuk mengisi acara-acara penting yang bersifat kedinasan. Ajang ini bisa dipakai sebagai ajang unjuk kebolehan.



Dibalik kemegahan dan eksistensi gedung Sobokartti di Kota Semarang terdapat sesuatu yang cukup memperihatinkan. Di masa pembangunan yang begitu pesat di Kota Semarang, keberadaan bangunan Sobokarti semakin tenggelan oleh pengurukan jalan di sekitar gedung ini. Pada beberapa dekade terakhir ini, jalan Dr. Cipto ketinggiannya selalu bertambah dan bertambahh. Akibatnya, ketinggian gedung ini sekarang di bawah jalan. Ketika hujan datang, air dari luar bisa masuk ke dalam gedung baik dari rembesan maupun dari luapan air pelatarannya. Untuk mengatasi banjir di gedung ini, pengurus Sobokartti biasanya memompa air yang berada di dalam gedung dengan mesin pompa air.


Web Sobokartti: Klik Disini
Berikut Lokasinya:




Krystiadi
Penggiat Budaya Kota Semarang
Ditjen Kebudayaan, Kemendikbud.

BANCAKAN

Bancakan (Wujud Doa dan Ucapan Syukur Masyarakat Jawa) (Bancakan yang sudah dibagikan kepada anak-anak) Salah satu jenis trad...